Salah
satu ciri syariat Islam adalah dzikir. Kedudukan ahli dzikir disejajarkan
dengan laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatan, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, dan laki-laki
serta perempuan yang bersedekah dst.
“Laki-laki
dan wanita yang banyak melakukan dzikirullah. Allah menyediakan untuk mereka
ampunan dan pahala yang besar” QS. Al Ahzab (33): 35.
Didalam
riwayat disebutkan bahwa seseorang datang kepada Nabi dengan nada mengeluh,
"Ya Rasul Allah, syariat Islam itu banyak, telah memberatkan kami,
tunjukanlah satu pintu, dengannya itu kami dapat memperoleh semuanya!”. Rasul
Saw. menjawab, "Basahi lidahmu dengan dzikir kepada Allah Swt".
Dzikir
adalah ibadah yang dapat dilakukan oleh siapa saja, baik miskin maupun orang
kaya, orang sibuk atau pengangguran, orang tua atau muda, pejalan kaki atau
orang yang naik kendaraan. Dulu orang-orang Muhajirin yang tergolong miskin
datang kepada Rasul saw. Dengan nada mengeluh berkata, "Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya itu lebih dulu sampai kepada kedudukan yang terhormat dan
merasakan kenikmatan".
Nabi
bertanya, "Ada apa dengan mereka?" Mereka berkata, "Mereka bisa
menegakkan shalat seperti halnya kami. Mereka bisa shaum seperti kami. Tetapi
mereka bisa bersedekah sementara kami tidak. Mereka bisa memerdekakan budak
padahal kami tidak".
Nabi
Saw. bersabda, "Bukankah aku mengajarkan kamu sekalian sesuatu yang
dengannya kamu dapat mendahului orang-orang yang mendahuluimu. Dengannya kamu
dapat mendahului orang-orang terdahulu. Tidak seorangpun yang lebih utama
daripada kamu kecuali yang melakukannya seperti halnya kamu".
Para
muhajirin menjawab, "Tentu ya Rasul Saw". Nabi bersabda,
"Bertasbih, bertakbir dan bertahmidlah setiap ba’da shalat sebanyak
tigapuluh kali". Hal ini terungkap dalam sahih Bukhari, dari Abu Hurairah.
Abu
Shalih salah seorang perawi hadis ini berkata, Orang-orang muhajirin tersebut
kemudian kembali menghadap Rasullulah Saw. seraya berkata,
"Saudara-saudara kami yang kaya-kaya itu mendengarkan apa yang kami
lakukan sehingga merekapun melakukannya seperti yang kami amalkan". Nabi
saw bersabda, "Itulah anugrah Allah, Dia akan memberikannya kepada siapa
yang dia kehendaki".
Dalam
Al Quran kata dzikir ditemukan lebih dari 250 kali berikut derivasinya,
diantaranya QS. Al-Ahzab (33): 41; QS. Thaha (20): 124 dan QS. Al Baqarah (2):
152. Dzikir dan doa adalah dua hal yang saling berhubungan, dzikir merupakan
pendahulu doa. Secara umum dzikir berarti mengingat. Dari aspek terminologi
terdapat beberapa pendapat diantaranya: upaya menghadirkan Allah Swt. kedalam
qalbu disertai perenungan (tadabbur), hai’ah (perangkat) bagi
jiwa yang memungkinkan seseorang untuk mengingat pengetahuan-pengetahuan yang
diyakini. Dzikir adalah sarana keluar dari lalai menuju musyahadah, disertai perasaan khauf
(takut) dan hubb (cinta).
Dzikir dapat berbentuk qalbu, pikiran,
amal atau sikap; dapat pula berbentuk lisan dengan cara membaca beberapa
ayat-ayat Al Quran atau seluruh ayat. Dzikir menurut pengertian bahasa adalah
“mengingat dan menghadirkan sesuatu didalam hati dan pikiran, baik melalui
ucapan dengan lisan atau bukan, dengan maksud mengingat kembali yang telah
dilupakan maupun untuk memantapkan ingatan kembali yang masih tetap melekat
pada ingatan.
Dzikir
juga menyebut Allah dengan membaca tasbih (subhanallah), tahlil (lailaha
illallah), tahmid (al hamdulilah), taqdis (quddusun), takbir
(Allahu akbar), hauqalah (la haula wala quwwata illla billah),
hasnalah (hasbiyallah), membaca basmalah (bismillahir rahmanir rahim),
dan membaca Al Quran dan membaca doa-doa yang ma'tsur yaitu doa-doa yang
bersumber dari Nabi Saw, sahabat, tabiin-tabiin dan ulama-ulama shalafushaleh.
Sedangkan
menurut Atha’ bahwa majelis-majelis yang membahas soal halal dan haram disebut
juga majelis dzikir karena ia mengingatkan kita dari kelalaian kepada kesadaran
sebagaimana halnya dalam Fathul Bari bahwa termasuk dzikir jika kita
mengamalkan seluruh perintah atau tugas agama dan menjauhi larangan-Nya. Dengan
demikian membaca Al Quran, hadis, mengkaji ilmu-ilmu agama dan memperbanyak
shalat tatawwu’ termasuk bagian dari dzikir.
Maksud
dzikir dengan lisah menurut Fahru al Razi adalah mentasbihkan (mensucikan)
Allah dari segala kekurangan dengan tasbih, memuji Allah dengan tahmid dan
mengagungkan Allah dengan takbir. Sedangkan dzikir qalbu yaitu mentafakkuri
dalil-dalil tentang wujud-Nya Allah Swt, sifat-sifat-Nya, perintah dan
larangan-Nya untuk mengetahui hukum-hukum dan rahasia-rahasia yang terkandung
dalam penciptaan alam semesta, dan menurutnya dzikir dengan seluruh anggota badan
yaitu mengarahkan segala kemampuan dan potensi untuk segala ketaatan.
Buku
doa Al Ta’qibat ini adalah doa-doa yang mengiringi shalat yang dianjurkan
dibaca setiap selesai shalat terutama shalat fardhu.
Ukuran : 10,5 x 14,5
(Edisi Fotocopy)
Tebal : xiv + 168
hal.
Harga : Rp. 20.000,-
Untuk pemesanan hubungi: Abi Tami, HP. 081312322631,
08164203928, WA. 081312322631
Tidak ada komentar:
Posting Komentar